Posts

101: Selang Tiga Dekad dan 6 Bulan Kehidupan

Kehidupan sepanjang pandemik terasa senyap. Tiada kebisingan. Tiada hiruk pikuk keramaian, gelak tawa dan cerita tentang masa lalu sambil menghirup nescafe ais atau limau ais. Mahupun gurauan kasar rakan-rakan sekolah atau universiti yang berjumpa sekali-sekala di waktu lapang untuk menghentikan seketika perasaan menjadi dewasa yang bekerjaya atau sedang mencari kerjaya. Kadang, menjadi anak-anak itu lebih menyenangkan. Mata yang sentiasa teruja memandang dunia dan tertawa pada hal-hal yang kecil dan menangis tanpa rasa segan.  Menjadi dewasa bererti kau harus menangis disebalik pintu, dengan bersorokkan bantal. Kau juga tidak boleh terlalu teruja kerana menjadi terlalu gembira di zaman kemurungan itu membuat orang jengkel dan iri. Kau harus bersembunyi.  Di sebalik dinding konkrit di tingkat 10 sebuah flat di kota metropolitan, kehidupan terasa bagaikan berada dalam pelukan yang hangat. Nyaman dan sederhana apa adanya. Dan hati tidak lagi membentak mahukan rumah yang lebih be...

100: Rindu

Rindu. Manusia itu lemah. Sering jatuh, Sering tersungkum Sering mengaduh. Sering terlupa dalam ketawa Sudah dirasa Dicuba yang lain lagi Sudah ditemukan Dicari yang lain lagi Sudah tahu Bertanya lagi Sudah dapat Dibuang pula Terlalu bersenang-senang sehingga malap cahayanya Terlalu bermalas-malasan  sehingga kecil apinya Tidak semarak dahulu lagi ................ ................ ................ Aku rindu Ramadan lalu  Saat aku temu Cinta Saat aku mengenal Cinta Saat aku mengaut Cinta Saat Cinta dan aku bertautan Saat aku dan Cinta begitu dekat sekali Aku rindu. Semahunya aku kembali lagi. Tuhan, jangan biar hati aku pergi. Izinkan aku terus dalam bahagia itu. Izinkan aku terus merasa kemanisan itu. 

099: Soul Searching #1 - A Clean Slate

At this point of my life, I ask forgiveness to all. If somehow, at one point in your life, you're compelled to read this. Maybe because of my recent deaths and you finally reached to this entry, there is nothing more that I wanted to ask of you except for your forgiveness and your willingness to let go of my mistakes.  If I ever hurt you and I did not, in my lifetime, take a thread and needle to mend the wound, I hope the wound itself will be healed by His grace.  If I've taken what's not mine and it's actually belong to you, I ask that your heart will not feel at lost for losing it. You'll let go of the fact that I might lost count and forget to return what's yours.  Most of all, I ask forgiveness to me - my current self, my future self & my past self. I forgive the mistakes & the sins I've committed & will be committing.  The wrongs that taught (and will teach) me lessons. The stumbles that brought (and will bring) me closer. Th...

098: Greeting an old friend

She was rushing to class. Her mind filled with endless to-dos, things she wants, bottled up wishes, hopeful dreams and frustrations.  She was about to make a turn at a corner when she stumbled and greeted with a familiar face. There he was, an old friend of hers, smiling and looking as inviting as ever. Not a single wrinkle on his face. Not a single sign of aging. He hasn't changed at all! She thought. While age has been catching up on her and adding on a few fats around her body.  She wanted to return the smile but her face blank, almost unreadable. It did a great job at camoflauging the raging feeling that surged at the pit of her stomach. She was stunned. 4 years. Yes, that's how long they last met each other. She remembered how short it was but also, how meaningful it has been. He used to be her haven, a safety nest for her to pour everything inside her - thoughts, feelings, ideas, happiness, sadness, unspoken words, words, words and more words. What happen...

097: I am a grown person but I have yet to figure it out.

There's an almost distant feeling when you grow up, or realise that you are a grown person.  Past seems like a memory you wish will never fade so that you can cling to it. Tug it close to your chest like hugging a precious teddy bear of your childhood. A warmth comfort but lifeless still. I wish I can let go of it, say that I won't need it any more. Too much I heard them saying that we should never look at our past, life moves on. Yet life as a grown person can be melancholy and poignant, sometimes. If not most of the times. Therefore the only way to bring the colours to the film is by bringing the memories that are colourful - the memory of past. Of childhood, of growing up, of adolescent, of youth.  Of innocent, of naivety, of ignorance, of not knowing yet. The irony is that as you grow up, you realise you are still in the state of now knowing yet maybe for forever. However, they expect you to know or at least, to act like you know. But really, who in this wo...

096: Embracing mess.

Well, hello there. It's been a while. It feels like meeting an old friend. I should penned this somewhere. Somewhere that I might come across someday. I tend to forget things. My mind is a mess, cluttered with unnecessary thoughts. I don't know what went wrong really but it's becoming a mess now. There are two basis for this circumstances. Number one: That's what happen to everyone when you grow up; you're mind becomes so cluttered you don't even know where to begin with. Or number two: I tend to bottled things up instead of writing it down. I don't know how to keep reminding myself again and again or even to find the time to do it but I really think writing things down helps. Even more so, I think it's becoming more important now that I've grown up and have much to say but kept it all in my mind.  Oh, by the way, hello adulthood! I am now a working adult. Graduated and about to leave my mark on this work (yeah, right). I must say that...

095: Seperti dia

Kalaulah dia melihat bintang pada mataku seperti mana aku lihat  ia bersinar-sinar di bola matanya Kalaulah dia merasa getar seperti aku tatkala dia tersenyum menyapa Kalaulah tawaku bisa membuat hatinya segar seperti mana senyum tawanya meruntun hati kecilku Kalaulah aku dilihatnya  sempurna Seperti dia yang kulihat sempurna di balik segala ketidak sempurnaannya Kalaulah aku.. Kalaulah aku... Kalaulah...

094: Buat sekian kalinya.

Aku rindu. Pada lantang suara kau. Aku rindu. Pada gelak tawa kau. Aku rindu. Pada gurau senda kau. Aku rindu. Buat sekian kalinya. Dan rindu ini buat selamanya. Moga kau aman disana. Nantikan aku. Aku akan kembali. Bila tiba masanya nanti.

093: Perkara-perkara asyik

Dia. Dia. Dia. dan juga dia. dia dengan huruf d kecil. ya, aku jumpa dia. atas belas Dia. Dia dengan huruf D besar.

092: Rindu

Buat sekalian kalinya, aku rindu ruang ini. tempat aku memuntahkan buah fikir dan rasa yang terperangkap.  Aku fikir aku boleh hadap semua bising-bising dunia virtual tapi ini tempat terbaik aku untuk merasakan enaknya sendiri. Aku rindu sendiri. Aku rindu berkata tanpa ada yang mengadili. Aku rindu menari-nari di ruang luas sebegini, Aku harus akui, terlalu terikut dengan keasyikan ruang kecil itu. Tapi sejujurnya apa yang dapat aku lunaskan dalam 140 patah perkataan itu, mahupun dalam sekeping gambar itu? Tiada. Jadi, aku kembali ke sini. p/s: Hai awak, rindu. Saya tahu saya selalu take awak for granted. I'm such a fool. You're sexier than twitter, istagram, facebook, or even pinterest.

091: Ujian

Aku tahu Kau hadirkan dia dalam diri aku. Sesekali terasa bagaikan nikmat menumbuh sinar dalam jiwa rasa membuat aku terasa bernyawa. Tapi aku juga tahu Kau timbulkan dia  pada hidupku untuk sekali ini sebagai ujian yang mencengkam sebagai pertanyaan, "Bukankah Aku sahaja mencukupi buatmu?" Sejujurnya Rindu pada Kamu itu lebih dalam rasanya Cinta pada Kamu itu lebih asyik rasanya Sayang pada Kamu itu lebih indah rasanya Dan ya, Kamu sahaja mencukupi buatku. Apa pun dia, n ikmat atau ujian. Selagi keduanya  mendekatkan aku pada Kamu, menemui aku kepada Kamu, membuatkan hati aku terus menangis untuk Kamu, dia hadiah yang tidak terharga. Terima kasih.

090: Berlalu

Image
Katanya kita tidak serasi. Lalu aku berlalu pergi. Mencari bahagiaku sendiri. Jauh sudah aku berjalan. Terasa dipanggil dari kejauhan. Kau yang pinta aku berlalu, bila menjauh, kau minta aku mendekat. Apa yang kau mahu? Biarkan aku. Biarkan aku. Kau dan aku, katanya tidak mungkin akan bersama. Jadi, apa yang kau mahu? Biarkan aku. Biarkan aku. Aku bahagia disini. Aku bahagia sendiri.

089: Turning table

Image
All this time, after you've built walls to keep people away. After you wear a different skin, a solemn mask to shed tears and emotions into invisibility. After you promise to never trust. After you said to yourself to never fall. After nights of pain and agony. After nights of trying to forgive. After days and months of building a fort. After being convinced that men are emotionless deceitful human being. After you feeling ready to face this world alone. After making plans and dreams with only you in the picture. After you are about to sail away. You meet someone, and you start to question. What has come over me? I wish you knew before all these afters. But it doesn't matter. It doesn't matter anymore. Unless....

088: Making amends with the past

Image
I miss writing. My language suck now, I wish I can flush it down to the toilet because it smell like shit.   I miss writing. I miss writing so freely where I don't care whatever people might think or assume from reading my words and thoughts. I miss making art through words in poetry, through acts in theatre, through colours in painting even they all suck big time. I think there is one point at my life when I start to realise that my thoughts and views can be different, that it can be hurtful, that it can only be understood by my own secluded self and a few minds that shared the same notions of life with me.  I don't know when I start have negative notion with people.  I want to reverse that moment if possible.  I want to believe that people are good (even when they are not). I want to give hopes. I want to dream back. I want to go for greater things. Last year was seriously a dark abyss for me. Despite some great achievements, some ...

087: Bangang Abadi.

Aku ingat aku dah boleh buat cool. Bila nak get over ni? Hish!

086: Pulang

Aku mahu pulang jauh ke sana. Di negeri kita tersenyum bahagia. Ombak yang menerjah kita tabahkan bersama. Dengan tawa yang menjengah malamnya. Aku mahu pulang jauh ke sana. Di negeri kita bergurau senda. Baik buruknya kita sesama. Bersatu tetap, diterima jua. Aku mahu pulang jauh ke sana. Di negeri punyanya ketua. Kita bergelak dalam tangis duka. Kerana bersama kita bahagia selamanya. Kita. Ya, kita. 

085: Kembali ke sini

Aku singgah semula ke sini,  kerana dunia lain seakan mencengkam, dan membunuh jiwa aku. Bukan ini bukan persinggahan.  Ini rumah aku di alam maya, tempat aku lari semula untuk terus kembali waras. p/s: Dan aku kembali mengisi kalian dengan dua puisi (?) yang aku simpan dalam kota draft aku buat sekian lama. Aku post keduanya sebab rasanya macam bertepatan dengan situasi aku sekarang. Heh, konon. Dah. Bai. *awkward*

084: Sebentar sahaja

Bagaikan angin, datangnya seketika. Meniup dan berlalu lembut di pipi Menari dalam buai yang mengasyikkan Jiwa terasa tenang dalam indahnya ia Disaat pergi, dicarinya lagi sehingga terpijak duri duri  terluka diri kadang langkah itu membawa ke tepi kelam dan membenam sepertinya dalam mimpi memanah jiwa sepi penat perjalanan ini jauh sekali entahkan bila datangnya lagi harapkan angin meniup pergi

083: Kau, aku & dia.

Suka? ya aku pernah suka kamu. tapi ini bukan cinta. Suka? ya tak perlu aku selindung, tapi lain keindahannya. Jangan ganggu cinta aku hanya kerana perasaan suka. Jangan ganggu getar hati ku, kerana yang ini untuk selamanya. cinta aku pada dia. dan juga Dia yang satu. cinta aku pada dia, tiada lain. cinta aku pada Dia, itu abadi.

082: Menulis dan beberapa hal yang tak dapat diungkapkan

Hello! Aku rasa aku patut buat blog baru kot. Nak lari sikit. Hihi.  Atau kita tak payah buat blog, kita menulis je dalam buku lebih baik, lebih privasi, lebih menyendiri. Tapi rasanya akan/mesti buat satu blog khas untuk brush up skills aku dalam penulisan. Mana tahu tengah syok tulis-tulis, tiba-tiba orang dari majalah LIBUR singgah baca. Untung-untung dapat jadi travel writer, ye dok? Berangan saja. Tapi angan-angan boleh jadi kenyataan bukan?